Thursday, October 8, 2015

#latepost

18 Januari 2015
Ada rasa kecewa ketika apa yang terjadi pada diri kita yang ditakdirkan Tuhan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kecewa itu pasti. Tapi, cobalah lihat dari sisi yang berbeda. Bukan dari sisi kecewanya tetapi dari sisi hikmahnya.
Mungkin sulit, tapi ketika hikmah tersebut sudah kita rasakan justru kita bersyukur Tuhan telah menakdirkan yang membuat kita kecewa tersebut. Haikmah yang luar biasa, yang tidak pernah kita sangka-sangka.
Satu yang pasti. Jangan pernah merasa kecewa terhadap apa yang Tuhan takdirkan pada kita. ketika harapan, permintaan dan impian kita tidak kunjung dikabulkanNya. Yakin dan percayalah bahwa Tuhan akan memberikan yang lebih dari yang kita minta. Suatu saat ini.
And, ia believe taha God will make mya dream come true. I believe it.

Thanks God for everything. Stay with me God.

Tuhan dan Harapan

220314
Tuhan dan Harapan
Mungkin terlalu banyak air mata yang ku tumpahkan untuk hal-hal yang mungkin tidak pantas aku tangisi. Mungkin. Aku hanya merasa ada sesuatu yang salah pada diri ini. Entahlah.
Mungkin terlalu banyak dan luas yang aku minta pada-Nya tanpa melihat siapa aku. Bukankah Tuhan mendenagr setiap doa hamba-Nya. Setidaknya itu yang selalu aku yakini. Tapi, aku pun tahu diri, siapa aku. Aku hanya bisa berharap apa yang aku minta pada-Nya suatu saat nanti dapat terkabul. Nanti tentu saja di waktu yang tepat di waktu dimana aku siap untuk menerima itu semua. Satu hal yang pasti, Tuhan tahu apa yang tidak kita tahu. Jadi sekerasa apapun aku berpikir aku telah siap, mungkin menurut-Nya kesiapanku baru 1 %. Dan untuk 100% aku tak tahu harus menunggu berapa lama lagi. Yang dalam tunggu ku aku masih berharap dan yakin Tuhan akan memberikan apa yang aku minta. Bisa saja dalam bentuk yang berbeda yang tak pernah kita sadari.

Keadaan membuat aku terbiasa. Tumpahan air mata setiap waktu, doa panjang yang aku untaikan, berjanji pada diri sendiri, yakin seyakin yakinnya hati. Entahlah sudah berapa banyak yang aku lakukan tapi tentu saja ini hanya perasaanku. Tuhan mungkin menganggap berbeda. Melihat dari sisi yag berbeda. Apapun itu mungkin sudah saatnya aku berhenti berharap. Terkadang muncul pikiran seperti ini tapi selalu dibarengi dengan “ kalau tidak pada Tuhan, kemana kau tujukan semua harapan-harapanmu itu?” Serba salah memang. Kenyataannya aku masih disini. Mengadu pada Tuhan, berharap ia mendengar apa yang ku ucapkan. Karena aku yakini tidak ada tempat lain selain Tuhan untuk menujukan doa dan harapanku. Tempat paling tepat, Tuhan.

Ceritaku

Ceritaku…
Aku hanya butuh dimengerti. Tapi di dunia ini orang-orang sering kali menuntut untuk terus dimengerti tanpa pernah bisa mengerti. Seperti aku saat ini, butuh dimengerti. Ah, sekali-kali boleh bukan? Aku tidak menuntut, hanya sekali. Ya, sekali. Setelah itu biarkan semesta yang bekerja.
Andai aku tahu apa yang digariskan Tuhan untukku sebelumnya. Mungkin aku akan lebih siap  menerima in semua. Bukan masalah besar memang. Tapi bagiku apa yang terjadi padaku adalah rentetan panjang cerita pedih tanpa akhir, tanpa jeda. Sekali lagi ini menurutku. Orang yang melihat mungkin akan berpikir apa yang terjadi apa padaku hanyalah masalah kecil yang dapat terselesaikan dengan satu kedipan mata saja. Atau mungkin ada yang berpikiraan sama denganku? Cerita ini pedih?
Menguras air mata. Entah aku yang terlalu sensitive atau alur cerita yang terlalu dramatic, aku sering kali menghabiskan waktu bertanya pada Tuhan, pada diri sendiri yang selalu saja diakhiri dengan derai air mata.

Sesedih apapun ceritaku (menurutku) aku tetap harus menjalaninya. Merampungkan cerita demi cerita. Ada kontrak antara aku dan Tuhan yang harus aku selesaikan. Ini tanggung jawabku. Ini hidupku. Ini ceritaku.